Rabu, 09 Mei 2018

Manunggaling Kawulo Gusti

Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: 
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”)
Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
Manunggaling Kawulo Gusti | Infopagarnusa.com
Manunggaling Kawulo Gusti
Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’ Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
Baca juga Atikel lain tentang Syekh Siti Jenar

Sebagian umat Islam menganggapnya sesat  Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya.

Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti. Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo.

Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

Dalam diri manusia terdapat segumpal daging
Apabila segumpal daging itu rusak
Maka rusaklah seluruhnya
Segumpal daging itu bernama qolbu
Qolbu itu ati dalam bahasa Jawa
Gusti sering diartikan Bagusing Ati
Gusti berarti pula Qolbu
Qolbu yang menjadi cerminan
Khaliq dengan ciptaan-Nya

Qolbu adalah terminal
Ati itu jangka jangkahing jaman
Atau titik pusat kesadaran kehidupan
Ruang dan waktu dimana kita hidup
Kawulo adalah hamba
Gusti adalah bagusing ati
Bagusnya qolbu manusia
Dalam menghamba kepada Allah
Manusia menghamba itu kawulo
Dengan hati yang bisa mencerminkan Allah
Maka manunggallah kawulo dan gusti
Apabila qolbu itu dekat dengan Allah
Sampai dekatnya dengan urat nadi leher
Maka hati hamba menjadi tempat bersemayamnya Allah
Kalau hati dekat dengan Allah
Fikiran tenang dan mendengarkan suara hati
Perkataan difikirkan dulu , Tindakan diniyatkan dijalan Allah
Maka benar
Manunggaling Kawulo Gusti
Sehingga
Jumbuh Kawulo lan Gusti
Dalam ridlo-Nya

Ketidakbenaran Manunggaling Kawulo Gusti, terletak pada kurang tepatnya persepsi dalam memahami ajaran tersebut, yang pada akhirnya hal ini bisa menimbulkan kesesatan, Jadi Manunggaling Kawulo Gusti tidak salah Namun menyesatkan apabila tidak pas dalam memahaminya.
Wa'allahualam.